Anak-Anak Putus Sekolah Di Wamena Dibekali Dengan Berbagai Keterampilan

Kegiatan sosialisasi kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang berlangsung di Hotel Nayak Wamena selama dua hari dari tanggal 4- 5  Juni 2012 dibuka dengan resmi oleh Asissten II Sekda Jayawijaya, Gaad Piranid Tabuni, SP, MM. Pelaksanaan sosialisasi ini melibatkatkan 70 orang anak yang berasal dari dedominasi gereja yang ada di Kabupaten Jayawijaya yang tergabung dalam komunitas anak-anak putus sekolah.

Asisten II Gaad Piranid Tabuni, SP, MM dalam sambutannya mengatakan, Untuk merencanakan kualitas anak diawali dari masa pertumbuhan anak sampai masa sekolah, namun yang terjadi saat ini banyak keluarga yang tidak memperhatikan hal ini sehingga banyak anak yang tumbuh dan berkembang di luar keluarga tanpa melalui pengawasan keluarga, bahkan ada beberapa keluarga yang tega menganiaya dan mengusir anaknya dari rumah menyebabkan anak tersebut hidup terlantar tidak mendapat perlindungan dengan kehidupan yang tidak pasti dari keluarganya.

Menyikapi hal Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Jayawijaya mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelamatkan masa depan  anak-anak ini dengan melakukan pembinaan dan pembekalan berbagai  keterampilan seperti komputer, jahit menjahit, tata boga, anyam-anyaman, dan membatik yang diperuntukkan anak-anak perempuan, sedangkan untuk anak laki-laki dilatih dengan keterampilan dalam bidang pertukangan, mebeuler, komputer, perbengkelan dan pertanian.

“Kita dari Pemda Jayawijaya bekerjasama dengan Oikonomos berupaya untuk memberdayakan anak-anak ini dengan memberi beberapa pelatihan keterampilan “ ujar Ribka Haluk, S.Sos , MM yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Jayawijaya.
Lebih jauh ia menjelaskan, anak-anak putus sekolah yang dilatih dengan berbagai keterampilan mulai dari usia 12 tahun sampai usia 15 tahun, hal ini dimaksudkan agar masa-masa keemasan mereka tetap terjaga dan mereka bisa menikmatinya. Anak-anak dimasa pancaroba seperti ini harus diisi dengan kegiatan yang positif untuk membentuk kepribadian yang tangguh sebagai bekal mereka di kemudian hari. ( humas )

    top